26
Agu
09

Alhamdulillah, Masih Menjumpai Ramadhan!

Ucapan seperti ini gampang kita dengar dari lisan setiap insan muslim ketika ia kembali ditemukan dengan ramadhan. Hanya terkadang agak sukar untuk diterapkan dalam bentuk ‘amaliah ramadhaniahnya. Karena itu saja barangkali belum lengkap jika tidak dibarengi dengan sebuah manifestasi dalam bentuk amal.

Introspeksi diri terkadang baru hadir tatkala ramadhan sudah diambang pintu. Ada rasa menyesal yang teramat mendalam. Ada pula rasa bersyukur. Rasa penyesalan ketika teringat saat ramadhan tahun lalu tak dilalui dengan sebaik-baiknya. Hingga hari ini tamu agung itu datang kembali menjumpai. Alhamdulillah.. Tapi, apakah kita masih harus seperti tahun yang lalu itu?

Ibarat menemukan sebuah musim. Si pemilik kebun berbunga-bunga hatinya bagai mekar dan mewangi serta berputiknya berbagai jenis pohon buah-buahan di kebunnya. Pada waktu yang sama si pemilik kebun lengah dengan suatu pekerjaan lain. Hingga akhirnya ia meninggalkan kebunnya terlantar.

Musim pun berakhir. Sementara ia belum dapat menikamati hasil panen kebunnya secara maksimal. Ruginya lagi, dia baru akan menemukan musim itu setahun kedepannya lagi. Nyesel banget bukan!

Bersyukur, karena ramadhan tahun ini masih bisa kita jumpai. Karena betapa banyak mereka yang mengandaikan berjumpa kembali dengan bulan mulia ini, tapi dia dipanggil terlebih dahulu oleh Allah swt. Atau mungkin dia masih bersama kita, tapi terbaring di rumah sakit.

Karena dengan menjumpai ramadhan kembali setidaknya ada peluang besar untuk kembali memperbaiki diri. Agar menjadi lebih berbakti kapada Allah swt.

Perjalanan singkat dinegeri ‘para nabi’ sebuah pemandangan yang jarang saya temukan di negeriku. Terutama dibulan ramadhan. Banyak panorama-panorama unik dinegeri ini yang ingin kukisahkan.

Sekitar setengah bulan atau mungkin sebulan sebelum ramadhan para penjual sejenis lampu berbentuk kubah masjid berukuran kecil (fawanis) sudah mulai sibuk. Biasanya lampu itu oleh penduduk digantungkan didepan flat.

Di lampu tersebut tertulis semisal ramadhan kariem.. dsb. Benda ini menjadi ciri khas. Yang berarti jika benda ini sudah dijual, itu menunjukkan bulan ramadhan sudah dekat. Hal inilah yang menghadirkan nuansa ramadhan.

Jika lampu-lampu ini sudah mulai dijual, maka yang terlintas dibenak penduduk, termasuk para pelajar dan mahasiswa asing selain ramadhan akan datang adalah pernak-pernik didalam sebulan ramadhan tersebut. Diantaranya apa yang disebut dengan ramah-tamah maaidatu al-rahman.

Merupakan sebuah ciri khas bulan ramadhan di negeri Musa as ini. Tenda-tenda itu sudah mulai tampak berdiri didepan flat atau masjid, dilain tempat terlihat pula tulisan  maaidatu al-rahman itu
di spanduk di pinggir-pinggir jalan atau didepan masjid.

Maaidatu al-rahman di Indonesia-nya sejenis tempat dimana disitu menyediakan perbukaan. Biasanya servis seperti ini diselenggarakan oleh para muhsiniin (dermawan) Mesir, atau bisa juga sebuah lembaga atau yayasan teruntuk siapapun yang hendak berbuka puasa.

Dihidangkan terkadang berbentuk paket yang didalamnya ada kurma serta nasi dan lauk-pauknya. Terkadang juga dihidang langsung bersama piring segi empat. Kemudian, para shaaimin duduk berhadapan di meja panjang. Dipiring tersebut terdapat empat tempat. Masing-masing untuk tempat nasi, lauk, sayur dan kurma.

Kemudian kebiasaan sahur berjama’ah yang mungkin jarang digalakkan ditempat kita juga sebuah nuansa ramadhaniyah yang sangat mengesankan.

Pernah suatu malam aku ikut bersama mereka jamaah masjid dalam qiyamullail. Dengan suara nyaring sang imam membaca ayat-ayat al-Qur’an membuat suasana malam menjadi begitu hidup dan indah. Imam memulai qiyamullailnya dari sekitar jam 1.30 malam hingga waktu sahur.

Setelah rangkaian qiyamullail para jamaah merapat kepada sebuah hidangan panjang berlapis terpal ditengah-tengah masjid untuk melakukan sunnah sahur. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw;“bersahurlah kalian karena pada sahur itu terdapat berkah”.

Selain nuansa-nuansa tersebut diatas, memasuki ramadhan disini juga terlihat pada awal-awal ramadhan berbarengan dengan penjualan fawanis dan tenda-tenda yang berjejeran seperti tadi disebutkan. Yaitu ketika masjid-masjid dibenah dan dihiasi.

Mereka biasanya mulai memasang lampu-lampu hijau di menara masjid dan lebih dari itu, masjid-masjid disini meskipun kecil dan peot tapi selalu ramai. Bahkan dibulan-bulan yang lain pun demikian.

Sehingga syiar ramadhan itu tampak semarak. Bersinar seperti riuhnya sinar lampu-lampu hijau yang melekat disetiap menara.

Dan berbagai syiar ramadhan lainnya yang tak mungkin diceritakan disini. Yang dapat kita ambil ‘ibrah dari cerita diatas adalah semarak ramadhaniyah yang tinggi, ditambah lagi jika dibarengi dengan sebuah pengamalan ibdahnya. Tidak hanya sekedar gembar-gembor tak karuan. Atau mungkin pesta besar-besaran seperti dilakukan banyak orang. Sementara itu ternyata tak lebih dari sebuah euforia belaka.

Disinilah kita sadari, betapa waktu itu bergulir begitu cepat. Seiring dengannya umat manusia pun banyak yang terlindas dan hanyut terbawa arus dahsyat sungai kehidupan. Waktu sehat membuatnya terkadang lalai. Hingga waktu sakit datang ia baru menyesal.

Ramadhan terasa baru saja kemarin. Suara imam shalat tarawih seakan baru saja minggu lalu lenyap. Suara piket membangunkan sahur seakan bangun kembali dari tidur pulas karena bergadang dan sekarang kembali membangunkan kita untuk sahur.

Terasa belum lama ini Mufti Mesir, Syekh Ali Jum’ah mengundang perwakilan dari penduduk (termasuk pelajar dan mahasiswa/wi asing) untuk hadir dalam acara pengumuman hasil ru’yah al-hilal ramdhan, satu hari yang lalu undangan resmi itu kembali hadir, kontan saja membawa kita terjaga. Ternyata bulan suci itu sudah didepan mata.

Itulah sebabnya Rasulullah saw bersabda;”ada dua nikmat yang raib darinya kebanyakan orang;nikmat sehat dan waktu lapang” (HR.Bukhari). Agar kita benar-benar pandai istifadah dari sebuah kesempatan. Terutama momentum itu adalah bulan ramadhan. Bulan yang dimana terdapat didalamnya satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Semoga ramadhan kali ini menjadi lebih berarti dan mampu membekali kita untuk menata perjalanan singkat kehidupan. Karena untuk melukis keutamaan, keagungan dan keindahan bulan ramadhan itu butuh waktu dan ruang lebih.

Barangkali cukuplah kita tadaburi bersama sabda Rasulullah saw berikut;”andai umatku mengetahui apa sebenarnya yang terdapat didalam bulan ramadhan (keutamaannya), niscaya ia akan berharap setahun penuh itu adalah diisi oleh bulan ramadhan seluruhnya.” Dengan demikian mungkin bisa memotivasi kita agar tidak menyia-nyiakan kesempatan brilian untuk menuai berbagai kebajikan dibulan mulia ini. Semoga..

Wallahu a’lam bisshawab


0 Responses to “Alhamdulillah, Masih Menjumpai Ramadhan!”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pembaca Situs Ini :

  • 26,969 Pengunjung

Jika Anda Berniat Memberi Bantuan / Sumbangan :

Apabila Bapak / Ibu Ingin Menyalurkan Bantuan Untuk pembangunan Mesjid AR - Raudhah Kampung Susuk - Medan, Bisa disalurkan Melalui :

Panita Pembangunan Mesjid AR RAUDHAH
Sekretariat : Jln Abdul Hakim Taman Kampus Indah No.2
Kampung Susuk - PB Selayang I
Telp : 061 -8215380, 061 - 77740707
BANK MANDIRI USU A/C No.106-00-05634723

Menu Kalender

Agustus 2009
S S R K J S M
    Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Photo Galeri

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: