27
Agu
09

Ramadan di Gusung Pandang

Jakarta -Ramadan menginjak hari pertama. Saya dapat pesan pendek dari Flores. “Mas, Gusung Pandang sedang musim kemarau. Ada tidak bisa dikirim untuk kami ini…”. Pesan, Ibrahim, seorang dai yang mendampingi muslim di daratan kering itu.

Saya ingat, Agustus begini, biasanya kemarau sedang menghampiri Flores. Pendek balas saya, “Ustad, cuaca dan kehidupan apakah ada yang berubah sejak saya singgah setahun lalu?”

“Masih sama mas…,” balas Ibrahim.

Jika tak ada yang berubah, menjalankan puasa Ramadan dalam suasana alam yang terik tentu berat. Apalagi, jika kehidupan ekonomi tak mendukung. Musim begini, di Gusung Pandang sama halnya dengan paceklik. Mereka akan melalui hingga akhir Oktober. Waktu yang lama untuk terpanggang di musim sulit air ini.

Saya silaturahim ke Gusung Pandang saat itu, dalam cuaca ekstrim. Panas, kering, dan semua tumbuhan tampak menguning. Mirip lanskap Afrika yang tandus. Bedanya, daratan di lembah bukit ini berada di pesisir laut Flores yang airnya biru. Indah tapi menyiksa, karena air laut itu tak dapat diminum. Hanya elok dipandang.

Gusung Pandang, sebuah kampung yang berada di Pulau Koja, Sikka, Nusa Tenggara Timur. Alamnya kering dan gersang. Zaidun (60), kepala kampung Gusung Pandang mengisahkan, musim kemarau begini paceklik amat mencekik. Hasil tanam di ladang delapan bulan lalu, tak mencukupi untuk kebutuhan makan hingga musim penghujan tiba.

“Kami sama hewan itu sama, yang membedakan kami manusia dia binatang. Kalau nasib sama-sama hidup tinggal menunggu maut. Tak ada hal lain yang bisa kami harap,” kelakar Zaidun pahit, September tahun lalu.

Tapi, hidup mesti berlanjut, Zaidun meyakini. Sebuah keluarga harus bertahan, tak boleh menyerah oleh tempaan kekeringan. Melihat denyut hidup mereka, tekad dan semangatnya yang hebat sangat menginspirasi.

Lihatlah, tanah yang retak karena kepanasan, coba digali jika ada terselip ubi-ubian di dalamnya. Pengharapan lain, pada buah pisang yang direbus sebagai pengganti makanan pokok. Biasanya jagung. Amat rumit melukiskan, bagaimana mereka tetap bertahan. Apalagi tinggal di pulau yang jauh dari fasilitas umum, menambah keadaan makin memprihatinkan. Tidak ada transportasi darat, kecuali jalan kaki. Menggunakan jalur laut sudah tentu perlu biaya. Apalagi sejak BBM naik.

Menyusuri pulau-pulau terpencil di wilayah timur, sekilas yang tampak keindahan lautnya. Kegersangan daratan, terbiaskan pemandangan bawah laut nan menawan. Kita pun berdecak. Betapa luas samudra nusantara ini. Sungguh melimpah ruahnya kekayaan laut negeri ini. Logikanya, tidak ada mestinya orang miskin apalagi sampai sulit makan. Mereka bisa memanfaatkan sumber daya laut yang kaya itu.

Bagi sebagian masyarakat yang tinggal di pesisir, laut memang bisa jadi pengharapan. Tetapi sebuah pulau, juga dihuni manusia lain di dalamnya. Tak semuanya punya bakat jadi pelaut. Yang tinggal di daratan, telah menemukan hidupnya dengan bekerja sebagai petani. Meski hasil panen yang dipetik hanya setahun sekali. Jika memaksa mereka melaut, sama halnya menyuruhnya menjemput maut. Sebaliknya, orang pesisir seperti Suku Bajo jika dipaksa ke darat pasti mereka sulit hidup. Maka tinggal di atas air laut, bagi Suku Bajo adalah ketenangan dan kenyamanan. Sementara bagi orang daratan, itu amat menakutkan.

Semua sudah ada dunianya sendiri-sendiri. Tantangannya kini, bagaimana membuat sinergi darat dan pesisir. Dapatkah hasil laut menjadi subsidi memenuhi kebutuhan hidup masyarakat daratan selama musim paceklik begini. Itu juga tidak mudah. Karena hasil pertanian dari daratan, tidak cukup mampu menjadi barter. Buah berladang berbulan-bulan itu, mayoritas untuk simpanan menyongsong masa kemarau. Akhirnya, posisi tawar petani di pulau terpencil yang curah hujannya rendah, menjadi lemah.

Drama getir ini, baru sebatas persoalan memenuhi kebutuhan perut. Pendidikan sudah pasti jauh panggang dari api. Lantas bagaimana dengan akidahnya?

“Kami minoritas di sini yang hidup banyak susahnya. Jarang ada yang kuat untuk mengembangkan dakwah di daerah minus dan keras masyarakatnya ini. Jangan terkejut jika berlahan-lahan Islam akan tinggal nama saja di sini,” terang Ibrahim mengejutkan.

Bukan mendramatisir Ibrahim berkata. Melihat geliatnya, ada kondisi terdesak yang dapat menggiring itu menjadi kenyataan. Jika itu terjadi, sebagian muslim lain akan marah, menyesalkan mengapa mereka tidak setia pada agamanya.

Pesan pendek dari Flores siang itu, membuat saya terpaku. Apa yang bisa diberikan untuk menjawab dengan terang. Jika sekadar charity, mudah untuk membantu. Tapi generasi Gusung Pandang, perlu jalan keluar jangka panjang. Mereka harus hidup lebih baik dan punya harapan masa depan. Mereka juga, bagian dari bangsa besar bernama Indonesia.

“Insya Allah ustad, dari Al-Azhar Peduli Ummat, besuk akan mengirim dana untuk beli sembako. Semoga berkah Ramadan juga sampai di Gusung Pandang,” jawab saya pilu. – sumber detik


2 Responses to “Ramadan di Gusung Pandang”


  1. 29/08/2009 pukul 03:15

    halo,
    sy Agus Suhanto, posting yg oke🙂
    salam kenal yaa

    • 2 arraudhahmedan
      30/08/2009 pukul 00:06

      terima kasih mas Agus, boleh kok kirimkan cerita ato apapun yang bermanfaat untuk kemajuan ummat. Wassalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pembaca Situs Ini :

  • 26,969 Pengunjung

Jika Anda Berniat Memberi Bantuan / Sumbangan :

Apabila Bapak / Ibu Ingin Menyalurkan Bantuan Untuk pembangunan Mesjid AR - Raudhah Kampung Susuk - Medan, Bisa disalurkan Melalui :

Panita Pembangunan Mesjid AR RAUDHAH
Sekretariat : Jln Abdul Hakim Taman Kampus Indah No.2
Kampung Susuk - PB Selayang I
Telp : 061 -8215380, 061 - 77740707
BANK MANDIRI USU A/C No.106-00-05634723

Menu Kalender

Agustus 2009
S S R K J S M
    Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Photo Galeri

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: